Rachel
terbangun di tengah malam dan matanya nanar memandang sesuatu yang
tak tampak di langit-langit kamarnya. Dia mendengar suatu suara yang
lebih menentramkan hati dari pada bisikan-bisikan kehidupan, dan
lebih senduh dari ratap keluhan jurang dalam, lebih lembut dari
gemerisik sayap putih, dan lebih dalam dari amannah gelombang
damudra. Suara itu digetari harapan dan kesia-siaan, kegirangan dan
kesedihan, dengan cinta kepada kehidupan namun disertai keinginan
pada kematian. Kemudian Rachel memjamkan mata dan menghela nafas
dalam-dalam; dia mendesah, sambil berkata,Fajar telah meraih
pinggiran lembah yang terjauh, kita harus pergi menuju matahari untuk
menyongsongnya.” Bibirnya ternganga, mirip seuah luka terbuka dalam
kalbunya, dan pedihnya menggema ke udara sekeliling.
Saat
itu Imam menghampiri ranjangnya dan meraba pergelangan tangannya,
terasa sedingin salju, dan ketika dia dengan ketetapan hati
meletakkan jemarinya diatas jantung wanita itu, dia menyimpulkan
bahwa detak jantungnya telah berhenti, jantung itu sama diamnya
seperti abad-abad yang silam, dan sebisu rahasia dalam hatinya.
Imam
itu menundukkan kepala dalam kegundahan rasa yang amat dalam.
Bibirnya gemetar, seolah ingin mengucapkan firman illahi, yang
alunnya dikumandangkan oleh bayang-bayang malam, menggapai
lembah-lembah jauh dan terpencil. Setelah menyilangkan tangan wanita
itu di dada, Imam itu menengok ke arah seorang pria yang duduk di
sudut ruangan, terhindar dari pandangan, dan dengan suara yang lembut
dan penuh iba dia berkata, “Kekasihmu telah mencapai lingkaran
Cahaya Agung. Mari, saudaraku, kita berlutut dan berdoa.”
Suami
yang berduka itu mengangkat kepala, matanya nanar, menembuskan pandng
pada yang tak tampak, dan raut wajahnya berubah, seolah telah
menangkap sekilas pengertian dari Tuhan yang penuh rahasia.
Dibenahinya dirinya yang remuk-redam, dan dia berjalan dengan kidmat
ke ranjang istrinya, lalu berlutut di samping Imam yang sedang
memanjatkan doa, seraya membuat tanda silang di dada. Sambil
meletakkan tangan di atas pundak suami yang terpukul parah itu, sang
Bapa bertutur tenang, “Pergilah ke bilik sebelah, saudaraku, karna
kau sangat membutuhkan istirahat.”
Pria
itu bangkit dengan patuh, berjalan kekamar dan menghempaskan
tubuhnyayang letih diatas ranjang sempit, dan selang beberap saat
telah terkulai berlayar ke alam mimpi, laksana seorang anak kecil
yang mencari perlindungan dalam pangkuan bunda yang mengasihinya.
Sang
Imam tetap berdiri seperti tugu di tengah ruangan dan suatu
pertarugan batin yang aneh mencekamnya. Dengan mata yang
berlinang-linang memandang bergantian, dri sosok jenazah wanita muda
yang terbujur dinginitu kemudian kearah suaminya, yang tampak dari
celah gorden, sedang tergolek lunglai. Satu jam berlalu, yang terasa
lebih lama dari pada se abad dan mengerikan dari pada kematian, dan
sang Imam pun masih saja tegak di antara dua jiwa yang terpisah itu.
Yang satu sedang mangarungi ke alam mimpi, sebagaimana sebuah ladang
bermimpitentang musim semi mendatang, setelah mengalami duka cita
musim dingin, dan yang satu dalam keadaan istirahat abadi.




0 komentar:
Post a Comment
Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:
1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar
Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.
Salam Blogger