Kemudian
Imam itu menghampiri jenazah wanita muda itu. Lalu berlutut seolah
sedang memuja didepan altar suci, dipeganya tangannya yang dingin
lalu ditempelkan sejenak di atas bibirnya yang gemetar sambil
memandangi wajahnya yang telah diselubungi lembut kematian. Suaranya
tenang seperti malam, tetapi sekaligus dalam laksana dasar sumur
gelora, penuh kegelisahan, tetapi sekaligus memancarkan harapan
insani. Dan tercetuslah ratapnya dalam tangisan:
“Oh
Rachel, pengantin jiwaku, dengarkan ini! Akhirnya aku dapat bicara!
Sang maut telah membuka kunci bibirku, hingga aku kini dapat
mengungkapkan kepadamu sebuah rahasia yang lebih dalam dari pada
hidup. Rasa pedih yang tak terpikirkan melepas hujaman paku di
lidahku, dan aku dapat mengurangi penderitaanku, yang lebih parah
dari pada luka jantung merah yang menetes. Dengarkanlah rintihan
jiwaku, oh, jiwa suci, yang kini mengambang antara bumi dan langit.
Tengoklah orang mudah yang selalu menunggumu pulang dari ladang,
yang melihatmu dari balik semak-semakdan pepohonan, berlindung diri
karna ketakutan dan memandang keelokan dan kecantikanmu. Dengarkan
pendeta ini, abdi Tuhan yang berseru kepadamu tanpa malu, setelah kau
mencapai hadirat-Nya. Aku telah membuktikan kekuatan cintaku, dengan
menyembunyikannya!”
Setelah
membuka kandungan jiwanya, Bapa itu membungkukkan diri dan menanamkan
tiga ciuman panjang, dalam dan bisu diatas kening, pelupuk mata dan
leher pujaannya, mencurahkan segenap rahasia cinta dan lara
deritanya, serta perih siksaan pada masa-masa lampau. Lalu tiba-tiba
dia menarik diri kesudut yang terlindug oleh bayang, dan terhenyak
lumpuh dilantai, menggil seperti daun musim gugur, seolah sentuhan
dingin wajah wanita tadi telah menggugah jiwanya untuk bertobat.
Kemudian dia membenahi diri dan berlutut, sambil menutupi wajahnya
dengan kedua tangan, lalu berbisik lembut,
“Tuhanku...
Ampunilah dosa hamba, ampunilah kelemahanku. Daku tiada kuasa menutup
rahasia yang sudah kau ketahui selama ini. Tujuh tahun lamanya hamba
mengunci rapat-rapat rahasia dibalik jeruji besi benteng hati, dan
mencegahnya agar tidak terucap oleh kata-kata, hingga maut tiba dan
merobek-robek benteng kokoh itu. Tolonglah aku, ya Tuhan, dan
sembunyikan kenangan indah tiada tara ini, yang menyenangkan kidung
elok kehidupan, tetapi menyenandungkan empedu pahit dari-Mu. Ampuni
aku.”
Tanpa
memandang lagi, dia merintih hingga fajar tiba, dan menebarkan kabut
lembut merah jambu di atas dua insan yang tak bergerak, mengungkapkan
pertarungan cinta dan agamadalam diri seseorang, dan perdamaian dalm
hidup dan mati pada yang lain.




0 komentar:
Post a Comment
Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:
1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar
Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.
Salam Blogger