Di Antara Puing-Puing

Written By Unknown on Saturday, 29 March 2014 | 7:17 am 0



Bulan menyandarkan tudung tipisnya di atas semak-semak Heliopolis, dan dengan tenang mengambil semua kendali kehidupan. Puing-puing ketakutan terlihat seperti raksasa yang merintih oleh pergantian malam.

Pada waktu itu dua sosok melarikan ketiadaan, seperti upa membumbung dari lautan biru. Pada setiap pualam yang dibentuk oleh waktu dari bangunan aneh itu, mereka duduk merenungkan sekelilingnya, yang menceritakan pandangan mempesona. Setelah sesaat, salah satu dari mereka mengangkat kepala dan bicara dalam suara seperti pantulan dalam gua-gua lembah yang jauh.

“Ini adalah reruntuhan kuil-kuil yang telah kubangun untukmu, kekasihku. Di atas sana ada puri-puri yang ku bangun untuk menyenangkanmu. Semua itu telah diruntuhkan dan tak ada lagi kecuali jejak yang menceritakan bangsa-bangsa tentang kemenangan yang telah dilalui hidupku untuk menyatakan kemungkinanku memaksakan kelemahan untuk kemenangan. Pertimbangan, kekasihku. Bagaimana unsur-unsur destruktif telah meratakan kota ynag telah aku bangun dengan sangat kokoh, dan bagaiman generasi pengganti telah mengecilkan makna filosofi yang aku pegang. Pelupaan telah mengelilingi kerajaan yang telah aku agungkan, dan tak ada sisa untuk ku menyelamatkan peristiwa cinta dimana kecantikanmu memberikan kelahiran dan cintamu memberikan kehidupan. Aku membangun kuil di yerussalem untuk ibadah.

Para pendeta mengorbanannya dan hari-hari yang lewat meremukkannnya, aku membangun kuil didalam dadaku. Tuhan mengorbankannya dan tak ada kekuatan yang melebihinya. Kucurahkan hidupku mencari arti segala kejadian. Manusia berkata, “Betapa engkau saja yang bijaksana!”

Malaikat berkata, “Betapa miskinnya dia dengan kebijaksanaan!” Lalu kulihat engkau, kekasihku, dan aku menyanyikan himne cinta serta kerinduan. Malaikat bergembira tetapi manusia tak memperhatikan. Hari-hari kekuasaanu ada namun merintangi antara jiwaku yang haus dan jiwa manis yang tetap dalam kemanusiaan. Ketika kulihat engkau, cinta tersadar, rintangan itu runtuh. Aku menyesali kehidupan yang aku hamburkanlewat sungai keputusasaan dan memperhitungkan kesombongan untuk semua makhluk dibawah matahari aku melayangkan surat berantai, memukul perisai-perisai,dan semua bangsa menakutiku. Ketika cinta menerangiku, pengikutnya sendiri meremehkanku. Tetapi ketika kematian tiba, ia melemparkan surat berantai dan perisai-perisai ini kedalam debu, dan cintakumengangkat menuju Tuhan.”

Setelah kesunyian, sosok kedua menyahut, “Seperti sekuntum bunga mengambil wangi dan kehidupannya dari debu, lalu sang jiwa meraup kekuatan dan kebijaksanaan dari kelemahan dan kebodohan terhadap sesuatu.”


Pada saat itu kedua sosok menyatu seperti satu sosok dan lenyap. Setelah sesaat, kata-kata menggema melewati udara disekitar tempat itu, “Hanya cinta yang akan tinggal melewati keabadian, karna mereka semua serupa.”
Created By : Unknown | Note Hand Excel
Terimah Kasih telah membaca Tulisan Di Antara Puing-Puing. Yang ditulis oleh Unknown Pada hari Saturday, 29 March 2014. Jika anda ingin menyebarluaskan Tulisan ini, mohon sertakan sumber link asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Trimakasih

Blog, Updated at: 7:17 am

0 komentar:

Post a Comment

Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:

1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar

Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.

Salam Blogger


SEO Reports for handexcel.blogspot.com
DMCA.com Protection Status