Senja yang buta telah terhampar dalam lukisan warna keemasan. Kebisingan udara telah mlemah dan menghilang. Burung telah berlarian kembali dari perantauannya, dan mengiringi hari yang mulai menutup matanya. Keheningan dan kesuyian akan mengendap di balik kegelapan. Dan kembali sang bulan akan menguasai dengan senar perak yang tertumpah dalam kesepian.
Hati yang telah hancur kini hanya bisa tersenyum di balik tangisan. Tangan yang erat berpegangan telah terlepas, dengan langkah yang berat jejak sang kekasih menapak pergi dari kehidupannya dan terucap satu kata darinya,
“Jangan pernah menangis wahai kekasihku. Kepergian ini tak harus disesali karna kepergian ini adalah takdir dari goresan tangan sang pencipta. Dan janganlah kau menyalahkan cinta, karna cinta takkan mengerti apa yang terjadi. Tetaplah tenang dalam kehidupanmu dan temukan kebahagiaanmu dalm jiwamu sendiri.”
Langkah sang kekasih mulai jauh meninggalkannya. Airmata mulai terurai, raga yang sempat gagah berdiri kini telah berlutut dihadapan sang pencipta dia membisikkan jeritan hatinya,
“Lihatlah wahai Sang Pencipta! Airmata ini tak pernah berhenti bersenandung dan selalu haru terluka. Apakah takdirMu tak pernah kau berikan kepadaku. Hingga nafas ini tak sanggup lagi merangkul kekasihku untuk tetap dalam pelukkan ini.”
Kegelapan telah mengiringi peraduan senja. Awan hitam telah menyelimuti langit biru. Jiwa-jiwa telah terikat oleh nyanyian tidur dan melelapkan raga mereka. Dinginnya hilir angin mencoba mengusik jiwa-jiwa yang telah terlelap.mata yang semakin redup telah hilang dibalik kesadaran.
***
“Sang pujangga hanya bisa merasakan cinta yag semudalam setiap goresan karyanya, seorang pujangga hanya bisa gila dalam puitisnya, seorang pujangga hanya bisa berandai-andai, seorang pujangga hanya mampu berucap dengan tulisannya, dan semua itu takkan pernah hilang dari pribadinya,”
***
Hatinya telah mati oleh nyanyian kekasihnya. Dan dia terus larut dalam sunyinya kepalsuan dunia. Setiap melihat langkah dia terus bertanya tentang cinta,
“beritahu aku wahai jiwa-jiwa yang berlalu dihadapanku, apa itu cinta!”
Seorang lelaki setengah baya lewat, dia berkata “cinta telah melemahkan kekuatan yang mengikatku dari balik mimpiku.”
Lewat seorang pemuda tubuhnya tegap dan gagah, dia berkata “cinta adalah keteguhan hati yang telah menunjukkan aku apa arti dari kekuatan yang sebenarnya.”
Seseorang dengan mata sayu lewat, dai berkata “cinta adalah racun yang mematikan, nafas ular yang brbisa.”
Seorang pemabuk lewat, dan berkata “cinta adalah anggur dari tegukkanku, yang selalu memabukkan jiwa yang meminumnya, dan akan selalu hidup diluar kesadaran dan akan mati dalam keabadian.”
Hatinya semakin terbawa oleh luapan emosi yang tak menentu. Kematian seakan telah tersandar dibalik tatapannya. Kini yang dia lihat hanya kegelapan, yang dia dengar hanya rintihan dan tangisan, yang dia rasakan hanya kepalsuan yang polos.
***




0 komentar:
Post a Comment
Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:
1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar
Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.
Salam Blogger