Antara Senyum Dan Air Mata part.2

Written By Unknown on Thursday, 13 March 2014 | 5:04 pm 0



Dengan wjah yang masih terbungkus airmata ia sandarkan tubuhnya untuk sekedar merenungkan apa yang telah terjadi, hingga tanpa sadar raga dan jiwanya telah terlelap.
            Mentari pagi telah menyingsing dari ufuk timur menebar kehangatan. Embun pagi yang sempat bertahta kini telah hilang larut terbawa pergi angin lalu. Angin yang telah melangkah mencoba membangunkan jiwa-jiwa manusia yang telah terikat oleh alam bawah sadar. Saat itulah tidur yang telah mengikat jiwanya terlepas dan mengangkatnya dalam pelukkan mimpi. Dengan mata yang masih tersisa dia kembali berbisik,
            “Bangunlah kekasihku! Jiwa ini memanggilmu, tinggalkan tempat tidurmu, karna mimpimu telah tersembunyi dalam lipatan selimut tidur. Engkau cintaku! Dengarkanlah rintihan hati ini. Aku selalu memangilmu berharap kau akan kembali dalam pelukkanku. Karna cintamu telah menyeretku dekat dalam pelukkanmu. Walaupun sekarang raga kita telah jauh terpisah, namun hati ini selalu merasakan helaan nafasmu yang selalu menungguku disana. Bangun, bangun kekasihku! Dan dengarkan kau! Aku telah berdiri di bawah pohon ini untuk mengingat kebersamaan kita yang telah menjadi saksi airmata ini. Ku akan selalu menunggumu disini dan mendekapku dalam pelukkanmu.”
            Pagi hari telah datang, jari-jari kesadaran telah menyentuh mata yang tela tertidur semalaman. Cahaya lembayung memberkas dari balik malam, mengoyak kegelapan malam yang telah menyembunyikan sinar mentari pagi. Membangukan raga-raga yang telah tersandar dalam ketenangan dan kesunyian dimalam itu. Suara gemercik air yang jatuh dari pegunungan telah mengisi udara pagi. Keksih hati yang telah dinanti belum juga datang. Kesunyian masih membayangi kehidupannya, hanya tiupan angin yang selalu menjadi teman di setiap langkahnya.
Di saat tubuh telah tersandar dalam panas terik sinar matahari, kenng telah terbasahi oleh keringat yang terus menetes dari senyuman yang telah hilang. Dari kejauhan terdengar langkah yang semakin keras, dan terus mendekat. Masih samar terlihat dari kejauhan. Sosok yang semakin mendekat, dari kejauhan lambaian tangan mulai membuka matanya yang sudah terbasahi oleh cucuran keringat semakin dekat langkah merapat, terbukalah senyuman yang sempat hilang terbawa oleh luapan emosi sesaat. Seperti halnya raksasa yang telah bangun dari tidurnya dan mencoba mencari mangsa untuk dimakan, dia mendekat dan memeluk sosok yang ada dihadapannya. Airmata kembali mengalir kembali menyelubung diantara kebahagiaan dan kesedihan. Namun kerinduan telah menghapus gejolak emosi yang sempat meledak.
            Dari balik jubah yang membungkus raganya tersimpan kehangatan pelukkan dari kerinduan seorang kekasih. Mimpi yang sempat menjadi sandaran renungan panjang telah terikat dalam pelukkan hangat dan rangkulan yang erat tak sempat lepas dari raganya. Senandung syair kerinduan membahana menyeret dua jiwa yang tak lagi menghiraukan hembusan angin yang melintas dihadapan mereka, yang mencoba memisahkan mereka lagi. Dengan senyuman manis tatapan 4 mata yang saling memandang menyenandungkan kata-kata. Menyatukan kecupan manis dari 2 bibir yag telah lelah bersenandung. Menyatukan 2 jiwa yang telah terseret dalam batas-batas kerinduan. Dalam kecupan itu dia mengatakan,
            “Apakah mimpi yang sedang terjadi dhadapan ini. Tapi kurasa tidak, sebab dapat kurasakan kecupan lembut darinya.”
            Namun dibalik genggaman tangannya terselip secarik kertas yang membungkus sebuah rahasia. Kecupan lembut telah berhenti dan tatapan matanya beralih ke kertas itu, dan dengan perasaan ragu ia bertanya,
            “Apa yang telah kau genggam wahai kekasihku? Yang sepertinya engkau enggan melepasnya.”
            Dengan wajah yang gugup kekasihnya menjawab,
            “Ini adalah coretan kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, dan keikhlasan.”
            “Apa yang kau maksud wahai kekasihku?”
            “Ini adalah kebahagiaanku yang akan menjadi awal hidupku yang baru, ini adalah kesedihan yang membungkus ending dari kisah kasih kita, ini adalah kekecewaan yang mungkin akan tergores dalam hatimu, ini adalah keikhlasan yang harus kau ikat dalam hatimu sebagai janji ketulusan kita berdua yang sempat menghiasi kehidupan kita.”
            Dengan tangan yang masih menggenggam kerinduan sepucuk surat yang terselip diantara kejujuran dan keikhlasan. Saat surat itu dibuka terurailah airmatanya, yang sempat terhapus oleh pelukan hangat dan kecupan lembut dari sang kekasih. Seperti berhenti detak jantungnya, ketik kata dalam sepucuk surat itu terurai oleh senandung nyanyian. Disitu tergores nama sang kekasih bersanding dengan nama laki-laki lain, dalam ikatan yang suci dalam goresan takdir sang kuasa.
            Hati yang sempat senang merasakan kecupan hangat sang kekasih yang menghapus kerinduannya kini harus berlalu dari sandaran hati.

To be Continue...........
Created By : Unknown | Note Hand Excel
Terimah Kasih telah membaca Tulisan Antara Senyum Dan Air Mata part.2. Yang ditulis oleh Unknown Pada hari Thursday, 13 March 2014. Jika anda ingin menyebarluaskan Tulisan ini, mohon sertakan sumber link asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Trimakasih

Blog, Updated at: 5:04 pm

0 komentar:

Post a Comment

Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:

1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar

Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.

Salam Blogger


SEO Reports for handexcel.blogspot.com
DMCA.com Protection Status