Antara Senyum Dan Air Mata (ending part)

Written By Unknown on Saturday, 15 March 2014 | 5:08 pm 0



Nafas mimpi telah memacu kesadaran untuk menyentuhnya yang telah terlelap dibalik tangisan langit. Tanah yang basah, udara bertiup dingin, membuat jiwa tak mampu berpijak dalam kesadaran. Jiwanya telah terbuai oleh harum bunga dan kecupan manis sang pujangga mimpi. Walaupun sinar mentari telah mendekap pepohonan yang nampak kedinginan, sinarnya telah tertumpah diatas bayang-bayang kegelapan dan sisa-sisa tangisan langit. Namun dia telah terperangkap dalam ketakutan dan kesedihan hatinya, yang semakin menyeretnya dalam keterpurukan.
            Matanya telah terbuka dan terbangun, namun raganya masih terbaring diatas ranjang kepedihan. Kesedihan hatinya telah membuat tubuhnya rapuh dan selalu dihinggapi bayang-bayang kehilangan. Wajahnya smakin pucat dan raganya semakin tak terjaga.
            Hampir satu tahun telah berlalu, raganya masih tebaring lemah diantara kepedihan dan keputusasaan. Hingga saat senja telah menyandarkan sinarnya dalam kegelapan malam, hembusan nafasnya telah menghilangmenyatu dengan tetes airmatanya. Raganya tak lagi bergerak diam dalam ketenangan malam. Bukan karna tertidur, tapi terlelap dalam keabadian yan seakan telah menunggunya. Senandung terakhir yang dia ucapkan telah membahana menjadi saksi arti dari cinta seorang kekasih,
            “Wahai malam, Tataplah mataku ini! Dan dengarlah senandungku ini! Tetaplah terjaga sebelum kata ini selesai bersenandung. Ku titipkan satu pesan padamu. Sampaikan pesan ini pada kekasihku yang jauh disana. Sebab aku tak mampu lagi berjalan. Mungkin kata ini yang akan menjadi saksi senandung terakhirku disaat raga ini tak lagi bernafas. Katakan padanya wahai malam! Cinta ini akan selalu abadi dalam goresan takdirnya. Dan janganlah kau menangis wahai kekasihku! Karna cinta ini akan selalu menjagamudalam lelap mimpimu. Hingga kita bisa bersama lagi dalam keabadian dan takkan ada lagi yang memisahkan kita.”
            Batu nisan telah berdiri tegak tanah yang masih basah oleh tetesan airmata jiwa-jiwa yang iba melihatnya. Alam pun ikut bersenandung dalam airmatanya,
            “Betapa kekuatan cinta telah menjadi ikatan kematian dalam raganya. Dan batu nisan ini akan menjadi temannya ketika dia kesepian. Tak ada kekasih hati yang menemani, kini hanya kegelapan yang menemaninya.”
            Jejak langka kaki dari belakang telah memalingkan mata jiwa-jiwa yang ada disana. Sosok perempuan yang tertutupi oleh jubah hitam mendekat dan bersandar di antara dua batu nisan. Dia berkata,
            “Wahai kekasihku lihatlah! Aku telah datang untukmu, aku telah mendengar nyanyian sang malam yang telah kau bisikkan kepadaku. Bangunlah kekasihku! Dengarkan aku! Walaupun ragamu telah terkubur disini, tapi cintamu akan selalu tersimpan dalam hatiku. Walaupun raga ini telah menjadi milik orang lain, namun hati ini hanya milikmu sampai kapanpun. Hingga nafas ini tak lag menaungi ragku, hingga ku dapat memelukmu dalam alam keabadian.”
            Matanya telah terlumuri oleh airmata yang membisu. Dan muutnya telah penuh dengan kecupan senandung kesdihan. Dia berkata lagi,
            “Izinkan aku menyusulmu, wahai kekasihku! Aku sudah tak mampu lagi bertahan dalam kepalsuan dunia ini. Biarkan aku kembali dalam pelukkanmu, seperti yang dulu. Biarkan hembusan nafas ini, hembusan nafas sang alam, hembusan nafas jiwa-jiwa yang ada disinimenjadi saksi keabadian cinta kita berdua. Sampai jumpa di keabadian wahai kekasihku.”
            Dan disela-sela kesedihan inilah terlihat sebuah kejutan yang hampar. Terlihatlah sebuah tragedi yang memilukan. Sebuah drama yang tersaji dalam kegelapan. Menjadikan semua nampak mencekam. Menjadikan detak jantung tak karuan. Hingga bisa dilihat hanya tubuh yang terbaring tanpa hembusan nafas. Dan memeluk kekasihnya yang tealah menunggunya disana.
            Mungkin kejadian ini takkan terlupakan oleh dunia dan akan menjadi cerita berabad-abad yang akan datangsaat mata akan terlelap.

                                                                               END
Created By : Unknown | Note Hand Excel
Terimah Kasih telah membaca Tulisan Antara Senyum Dan Air Mata (ending part). Yang ditulis oleh Unknown Pada hari Saturday, 15 March 2014. Jika anda ingin menyebarluaskan Tulisan ini, mohon sertakan sumber link asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Trimakasih

Blog, Updated at: 5:08 pm

0 komentar:

Post a Comment

Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:

1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar

Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.

Salam Blogger


SEO Reports for handexcel.blogspot.com
DMCA.com Protection Status