“Ya, akulah orang yang paling mengerti perempuan, dalam kerinduan dan hasrata mereka, karena kau telah menyaksikan sendiri bagaimana kereta-kereta kuda milik suamiku, ditambah dengan harta kekayaannya yang melimpah ruah digudang harta, sama sekali tidak sebanding dengan kedip mata pemuda miskin yang telah ditakdirkan diciptakan untukku, dan untuknya aku diciptakan. Ia begitu sabar menanti di dalam duka dan menahan diri dalam perpisahan yang mencabik-cabik. Seorang yang telah menjadi korbankeinginan hati ayahku, tanpa kesalahan ia terpenjara dalam jeruji waktu.
“Tak
perlu engkau menghiburku, karena satu-satunya hiburan bagiku adalah
kebebasan, mengetahui kekuatan cintaku serta kehormatan dambaanku.
Aku melihat, kini, dibalik genangan airmataku, hari-hari yang telah
di tentukan untukku membawaku menuju saat aku akan bertemu sahabat
jiwaku, bersatu dengannya dalam pelukan panjang yang suci.”
“Janganlah
engkau salahkan aku, karena aku pun telah berbuat sebagaimana istri
yang baik, sekuat hatiku mentaati hukum dan tradisi laki-laki. Aku
selalu menghormati, memuliakan dan patuh kepada suamiku. Tetap aku
tak bisa berikan segala yang ku miliki, karena Tuhan telah menetapkan
bahwa itu hanya untuk kekasihku yang akan segera ku temui, tidak lama
lagi.
“Langit
telah menentukan dalam keheningan yang hormat, bahwa ku harus
menjalani hari-hariku kini dengan laki-laki yang bukan untuknya aku
diciptakan, dan akan ku jalani waktu-waktu ini sesuai kehendak
langit. Nanti, ketika pintu keabadian telah waktunya terbuka dan aku
akan bersama kembali dengan belahan jiwaku, maka aku akan memandang
kemasa lalu, masa yang tidak lain adalah hari-hari ini, seperti musim
semi memandangi musim dingin. Aku akan merenungi kehidupanku ini
seperti seorang pendaki yang telah sampai di puncak dan memandangi
lereng-lereng terjal yang telah ia laui.”
Saat
itu sang dara berhenti menulis, menyembunyikan wajahnya di balik
kedua telapak tangan dan menangis dengan pilu. Hatinya telah
memutuskan untuk membukakan rahasianya yang paling suci kepada pena
dan kertas yang ada dihadapannya. Ia menarim nafas, menghentikan
tangisannya, dan airmata itupun pergi ke angkasa, tempat jiwa-jiwa
para pecinta dan roh bunga-bunga.
Setelah
beberapa saat diambilnya alat tulis itu dan menambahkan,
“Apakah
engkau masih ingat pemuda itu? Apakah engkau ingat cahaya yang
memancar dari kedua matanya, dan kesedihan yang membayang di alisnya,
dan senyumnya yang seperti perempuan putus harapan? Apakah kau juga
masih mengingat suaranya seperti gema dari lembah yang jauh? Apakah
kau juga masih ingatketika ia merenungkan persoalan diri dengan
pandngan mata menerawang, dan bergumam dengan kata-kata aneh,
kemudian menundukkan kepala sambil mengeluh, seakan sedang hawatir
bahwa ucapannya tadi akan mengungkapkan segala rahasia yang ia pendam
dalam hati? Apakah kau dapat mengingat itu semua dalam diri seorang
pemuda yang oleh kemanusiaan dianggap sebagai salah satu anaknya,
kepadanya ayahku memandang dengan mata angkuh karena ia lebih tinggi
dari kebanggan bumi dan lebih mulia dari kekayaan warisan?
“Engkau
tahu, Ayunda tercinta, aku adalah martir di dunia yang remeh ini, dan
seorang korban kebodohan. Apakah engkau akan kasihan kepada adikmu
yang termangu sendiriandi tengah sunyi malam yang mengerikan,
menumpahkan segala isi jiwanya dan mengungkapkan kepadamu segala
rahasia isi hatinya? Aku yakin engkau akan mengasihiku, karena aku
tahu bahwa cinta telah menyinggahi hatimu.”
Fajar
telah tiba, dan sang dra terkulai dalam pelukan lelap, berharap
mendapatkan mimpi-mimpi yang lebih manis dan lebih indah dari
kenyataan yang ia jumpai disaat terjaga.




waaah pertamax nih saya,,hehehe, terimakasih suah berkunjung di blog saya kak..btw sebaiknya template blog ini dibikin responsive agar lebih keren! semangat yaa ngeblognya ;)
ReplyDeletetrimakasih banyak dah mau berkunjung ke sini. dan juga terimakasih sarannya sangat bermanfaat :)
Delete