Aku Sahabatmu

Written By Unknown on Saturday, 4 March 2017 | 11:01 pm 0

“Reina Syahrizka Alamsjah”
Terdengar gaduh suara tepuk tangan dalam ruangan setelah nama tersebut disebutkan. Gadis yang merasa memiliki nama pun berdiri dan berjalan menuju ke depan ruangan. Ia menerima raport-nya dan bersalaman dengan guru di hadapannya, Reina kemudian membalik badan dan tersenyum penuh kebahagiaan pada orang-orang yang terdapat dalam ruangan itu. Salah satu teman perempuannya tampak membalas senyumannya dengan mimik wajah bangga sambil menunjukkan kedua ibu jarinya.
“Selamat ya, dapat ranking satu lagi semester ini,” ujar salah seorang murid.
“Iya, selamat ya. Kamu masih bertahan di urutan satu sampai sekarang,” ujar murid perempuan lainnnya.
“Iya, terima kasih. Aku juga tidak akan sampai seperti ini jika tidak ada kalian di sekelilingku,” jawab Reina sambil tersenyum.
“Pertahankan terus ya, Rein!” seru mereka sambil berlalu pergi.
Reina hanya membalas senyum mendengar seruan itu, Tiba-tiba--
“Hei! Selamat yaa!! Kamu berhasil dapat peringkat satu lagi” ujar Anaya sambil menepuk bahu Reina.
“Iya. Eh, kamu kan juga dapat peringkat 3. Selamat ya!” ujar Reina.
“Yah, tapi masih belum bisa memenuhi targetku untuk menyaingi kamu jadi peringkat satu,” jawab Anaya yang kemudian melanjutkan, “Ngomong-ngomong, traktir dong! Untuk merayakan keberhasilan kamu.”
“Umm.. kapan-kapan deh, Nay, lagi gak punya uang sekarang,” ujar Reina sambil nyengir.
“Huh, oke deh. Kapan-kapan, ya!”
“Iya, udah yuk pulang!”
***
“Assalamu’alaikum,” salam Reina sambil memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ayah Reina yang langsung menyambutnya dengan senyuman. “Sudah pulang? Bagaimana tadi hasil UAS-mu?” lanjutnya.
“Alhamdulillah dapat peringkat satu lagi, yah.”
“Alhamdulillah, kamu masih bisa mempertahankannya dari SD sampai sekarang,” ujar Ibu Reina yang tiba-tiba muncul dari balik dapur.
“Iya, Alhamdulillah. Pertahankan ya, nak,” ujar Ayah Reina.
Reina tersenyum. “Insya Allah, yah.”
Ibu Reina kemudian menyuruh Reina berganti baju dan mengajaknya makan siang bersama.
Reina adalah anak tunggal di keluarganya. Di sekolah, ia merupakan juara kelas yang selalu memperoleh nilai tertinggi dan selalu menjadi ranking satu di setiap semesternya dari kelas 1 SD hingga kelas 8 SMP ini. Ia memiliki banyak sekali teman karena kepintarannya tersebut. Dan salah satu yang paling terdekat adalah Anaya, sahabatnya dari SD. Mereka berdua sudah sangat akrab satu sama lain. Namun, akhir-akhir ini mereka sangat jarang bersama karena teman-teman kelas Reina yang sering mengajak Reina kesana-kemari, pergi ke kantin, belajar bersama di perpustakaan, atau hanya sekedar mengobrol. Mereka seperti membentangkan jarak antara Reina dan Anaya.
Reina sangat bahagia karena diberi teman baik yang sangat banyak. Ia tidak pernah merasa kesepian setiap harinya. Itu jugalah alasan Reina sangat semangat pergi ke sekolah. Selain mencari ilmu, ia juga dapat bertemu dengan teman-temannya dan berbagi keceriaan bersama. Bahkan Reina hampir pernah melupakan Anaya karena terlalu asyik dengan teman gadisnya yang lain, ia juga jadi jarang sekali mengajak Anaya mengobrol. Jika Anaya tidak mengajaknya bicara terlebih dahulu, mungkin mereka tidak pernah melakukan percakapan. Tapi Anaya tidak begitu menanggapi hal itu, ia tetap mengajak Reina mengobrol di saat Reina sedang sendiri atau saat sedang membaca, Anaya sangatlah mengerti perasaan Reina saat ini, dan ia tak ingin merusak kebahagiaan sahabatnya itu. Ia bahkan pernah mundur dan menjauhi Reina di saat Reina sedang bersama teman-teman kelasnya. Ia sangat mengerti. Benar-benar mengerti.
***
Liburan panjang semester satu pun dimulai, liburan ini selalu membosankan bagi Reina karena ia tak dapat betemu dengan teman sekolahnya. Ia selalu menghabiskan masa liburannya dengan belajar dan membaca buku di rumah. Menurutnya, sekolah atau tidak sekolah ia harus tetap belajar, karena belajar adalah segalanya bagi Reina.
Masa liburan ini akan berakhir hingga 2 minggu. Sudah 12 hari berlalu, berarti Senin depan Reina akan mulai masuk sekolah kembali. Ia sangat kegirangan menyadari hal itu. Ia bahkan sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari pertamanya masuk sekolah di semester baru.
Seperti biasa, Reina telah siap berangkat pada pukul 06.15. Ia akan diantar ayahnya seperti biasa. Sesampainya di sekolah, sekolah telah ramai. Mungkin karena hari pertama, pikirnya. Reina segera masuk ke kelasnya dengan setengah berlari. Lalu begitu ia membuka pintu,
“Pagi,” sapa Fawa sambil tersenyum ramah, diikuti dengan sapaan selamat pagi dari teman-temannya yang lain. Reina menanggapinya dengan tersenyum, sudah biasa setiap paginya ia mendapat sapaan hangat dari teman-temannya.
“Pagi,” jawab Reina dengan tak kalah ramah. Ia pun mencari tempat duduk yang masih kosong. Tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang, Anaya.
“Pagi, ranking satu” sapanya sambil tersenyum menggoda.
“Pagi juga, ranking tiga” balas Reina dengan senyuman dipaksakan.
Ih, kok ranking tiga?”
“Ya emang kamu peringkat tiga ‘kan?” ujar Reina sok polos.
“Ya yaa.” Anaya hanya menanggapinya acuh.
Reina tersenyum dan kemudian mengambil bukunya dari tas lalu membacanya.
***
Sekitar dua bulan telah berlalu semenjak semester baru dimulai. Teman-teman sekelas Reina sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi UTS yang akan datang 2 minggu lagi.
“Rein, kamu udah siap buat UTS?” tanya Fei yang langsung mengagetkan Reina yang sedang membaca.
“Eeh, i-iya. Insya Allah aku siap,” jawabnya gagu.
“Dapatkan peringkat satu lagi, Rein!” seru Fawa yang mendengar percakapannya dengan Fei.
Reina hanya menanggapinya dengan tersenyum.
“Tidak! Di UTS semester ini, aku yang akan mendapat peringkat satu,” sela Aryo tiba-tiba.
“Coba saja, kalahkan Reina!” balas Fawa
“Iya! Jangan hanya bicara saja!” timpal Fei membenarkan.
“Lihat saja. Aku pasti akan membuktikannya,” jawab Aryo yakin.
Reina hanya diam saja, tidak menanggapi perdebatan yang terjadi di depannya.
“Rein, kamu harus lebih waspada, banyak yang ingin merebut posisi kamu, tuh,” ujar Anaya yang tiba-tiba muncul.
“Iya, aku tahu. Kamu juga harus bersiap-siap,” tanggap Reina.
“Iya, ranking satu,” jawab Anaya sambil memutar bola mata saat menekankan nada pada kata ‘ranking satu’.
Reina menatap Anaya tajam. Namun hanya ditanggapi Anaya dengan cengiran lebarnya. Reina lalu melanjutkan “Oh ya, aku belum kasih tahu kamu ya? Nanti aku sendirian di rumah, ayah dan ibuku sedang pergi ke Magelang, kamu mau ke toko buku gak nanti? Biar gak bosen sendirian di rumah.”
“Nanti? Umm.. bisa-bisa” jawab Anaya sambil mengangguk-angguk.
“Ya udah, pulang sekolah nanti, ya.”
***
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid SMP Budi Bangsa dengan berbondong-bondong keluar kelas dan pergi ke tempat tujuan masing-masing, ada yang pergi ke toko snack di luar sekolah, ada yang mengobrol di koridor sekolah, ada yang langsung pulang, dan ada yang hanya sekedar duduk-duduk di kursi yang telah disediakan sekolah.
Setelah keluar dari kawasan sekolah, Reina dan Anaya segera pergi menuju ke toko buku. Mereka pergi kesana dengan berjalan kaki, karena jarak toko buku yang tidak begitu jauh dari sekolah mereka. Sesampainya di toko buku, Anaya langsung melesat ke rak-rak novel remaja, sedangkan Reina pergi ke rak novel-novel sci-fi.
“Udah, Nay?” tanya Reina sambil menghampiri Anaya.
“Eh, iya. Ini udah ketemu.”
“Ayo ke kasir,” ajak Reina. Tiba-tiba ponsel Reina berbunyi. Reina segera mengambil ponselnya yang berdering dari saku roknya. Ia melirik ponselnya, dari Budhe Lestari, budhenya. Budhe? Tumben, gumam Reina dalam hati.
“Halo, budhe? Ada apa?” sapa Reina ramah.
“Reina! Kamu dimana? Cepat pulang ke rumah, sekarang!” ujar budhe Lestari dari ujung telepon dengan nada tergesa-gesa.
“Reina lagi di toko buku, budhe. Iya, setelah ini Reina langsung pulang. Memang ada apa, budhe?” tanya Reina. Sejenak budhe Lestari diam, lalu berkata,
“Orang tuamu kecelakaan saat perjalanan akan ke Magelang.”
“Apa?! Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” ujar Reina dengan panik.
“Budhe belum tahu, makanya sekarang kamu cepat pulang! Budhe dan Pakdhe akan pergi ke RSUD Magelang, setelah ini.”
“Baik, Reina akan pulang sekarang,” ujar Reina sambil menutup telepon.
“Ada apa, Rein?” tanya Anaya.
“Aku harus pulang sekarang, Nay,” ujar Reina, “Orang tuaku kecelakaan,” lanjutnya lirih dan sudah menitikkan air mata. Mereka lalu segera membayar dan keluar dari toko buku.
***
Reina melangkah dengan langkah panjang dan tergesa-gesa menuju ruang UGD. Ia terlihat sangat gelisah dan cemas. Sampai kemudian seorang dokter keluar dari ruang UGD. Reina dan budhenya dengan cepat langsung menghampiri dokter tersebut.
“Bagaimana keadaan mereka, dok?” tanya Budhe.
“Maaf, kami sudah berusaha semampu kami, namun-” ujar dokter tersebut dengan raut wajah kecewa. Lalu melanjutkan “Pasien mengalami luka yang sangat parah, sehingga kehilangan banyak sekali darah. Bahkan jika dilakukan transfusi darah pun belum tentu dapat mengganti banyaknya darah yang hilang. Maaf, tapi kami tidak dapat menyelamatkan nyawa mereka.”
Sontak, mulut Reina langsung menganga mendengar pernyataan tersebut.
“Apa?!” jawabnya lirih, namun tidak dapat menutupi rasa ketidakpercayaannya dalam nada kalimatnya. “Nggak mungkin,” ucapnya semakin lirih.
“Mereka berdua?” tanya budhe Lestari, berharap masih memiliki satu kesempatan.
Dokter tersebut hanya mengangguk. Diikuti raut wajah kecewa perawat lainnya.
Dan malam itu, menjadi malam terburuk dalam hidup Reina, serta menjadi awal dari segala kekacauan yang terjadi di hidup Reina.
***
Sinar matahari pagi itu terasa lebih terang dari biasanya, namun tetap tidak dapat mengubah suasana hati Reina yang masih terpuruk karena kehilangan orang tuanya. Sudah sekitar 1 minggu semenjak malam itu. Malam itu, setelah pulang dari rumah sakit, Reina mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Ia tidak mau makan, dan keluar kamar, hanya menyendiri dan menangis setiap harinya.
2 hari lalu, ia sudah mulai masuk sekolah, karena jika absen lebih lama lagi, ia bisa di-drop out dari sekolahannya. Ia tinggal di rumah budhe Lestari sejak malam itu. Namun hingga hari inipun, ia tetap tidak begitu merespon jika diajak berbicara atau ditegur saat pelajaran oleh guru. Ia lebih sering melamun dan merenung. Hal ini tentu membuat Anaya khawatir, UTS semakin dekat dan ia masih saja belum bersikap seperti Reina yang biasanya. Bahkan Reina sering tidak mengerjakan PR dan tidak dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan bapak-ibu guru. Padahal sebelumnya, Reina tidak pernah sekalipun terlambat mengumpulkan tugas.
“Rein,” panggil Anaya. Reina hanya diam. “Reina,” ulangnya. Reina tetap tidak menjawab. “Reina Syahrizka Alamsjah,” ulang Anaya dengan sedikit berteriak.
“Eeh, iya. Ada apa?” ujar Reina tergagap.
“Kamu kenapa, sih? UTS minggu depan, Rein, dan kamu masih saja seperti ini,” ujar Anaya. Reina terdiam. “Kamu yakin sudah siap untuk UTS ini?” tanyanya.
“Ya,” jawabnya singkat lalu kembali membisu. Anaya ragu. Ia semakin yakin bahwa Reina masih belum siap, dan masih belum kembali seperti semula.
***
Hari UTS-pun datang, semua murid telah bersiap menerima soal-soal UTS. Saat UTS berlangsung, Reina masih saja sering melamun, akibatnya ia sama sekali tak fokus dengan soal-soal di hadapannya. Anaya sering memperhatikannya, ia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
Sampai hari terakhir UTS, Reina masih saja sama seperti hari-hari sebelumnya. Hingga pada saat pembagian raport sisipan, pikiran Reina masih kosong. Semua murid telah bersiap mendengar pengumuman dari wali kelas mereka mengenai hasil UTS. Wali kelas sudah mulai mengumumkan hasil UTS masing-masing murid. Dan pengumuman yang paling mengejutkan adalah ketika wali kelas menyebutkan nama “Aryo Eka Wirawan” sebagai peringkat pertama. Semua murid sontak menganga dan semakin terkejut lagi ketika wali murid mengatakan bahwa juara bertahan kelas tersebut “Reina Syahrizka Alamsjah” turun drastis menjadi peringkat kesembilan. Bahkan dibawah peringkat Anaya, yang sekarang naik mendapat peringkat kedua. Seluruh kelas masih tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Kebanyakan dari mereka mengerjap-ngerjapkan mata seolah menganggap ini hanya mimpi.
Ekspresi mereka, tidak berbeda dari ekspresi Reina saat ini, Reina benar-benar terkejut melebihi keterkejutan teman-temannya. Bahkan badannya sampai bergetar ketika mendengar pengumuman tersebut, ia tak pernah sekalipun mendapat peringkat lain selain peringkat satu selama hidupnya. Dan sekarang ia justru mendapat peringkat kesembilan, berjarak satu peringkat di atas peringkat kesepuluh. Teman-temannya menatapnya tak percaya.
Setelah hasil UTS telah diumumkan, murid-murid segera keluar dari kelas. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, tidak ada satupun murid yang mengucapkan selamat padanya. Jelas, apa yang perlu dibanggakan dari peringkat sembilan? Gumamnya dalam hati sambil tersenyum getir.
“Rein,” sapa seseorang sambil menepuk bahu Reina dari belakang. Tanpa menengok pun, Reina sudah mengetahui bahwa itu adalah Anaya. “Kamu nggak papa?” tanya Anaya hati-hati.
“Ya,” jawab Reina singkat tanpa membalikkan badan.
“Ayo pulang bersama,” ajak Anaya masih dengan nada hati-hati.
“Maaf, Nay. Aku lagi pengen sendiri sekarang. Kamu pulang duluan aja,” jawabnya sambil menengok sedikit kebelakang, ke arah Anaya, lalu melanjutkan kembali langkahnya. Anaya pun hanya bisa diam dan melihatnya berlalu.
***
Keesokan harinya, Reina berangkat diantar pakdhenya, ia sedikit kesiangan karena begadang semalaman. Seharian kemarin, sepulang dari sekolah, Reina tidak keluar kamar sama sekali, bahkan ketika dipanggil budhe dan pakdhenya untuk makan malam, ia mengatakan belum lapar tanpa membuka pintu kamarnya. Dan di dalam kamarpun, ia hanya bisa melamun dan menangis. Sebentar melamun dan kemudian menangis, kemudian ia berhenti dan melamun lagi, lalu menangis kembali, begitu seterusnya. Ia sangat kecewa pada dirinya, tidak pernah ia merasa serendah itu, setelah hampir 8 tahun selalu memperoleh peringkat satu, tiba-tiba langsung turun drastis menjadi peringkat kesembilan. Benar-benar sesuatu yang tidak diduga-duganya selama ini.
Hari ini sedikit berbeda dengan hari-hari lainnya. Pagi hari saat ia masuk ke dalam ruang kelasnya, tidak ada satupun murid yang mengucapkan ‘selamat pagi’ atau sekedar tersenyum padanya. Hanya Anaya yang tampak masih peduli padanya dengan menanyakan kabarnya karena khawatir kejadian kemarin akan membuat Reina semakin terpuruk lagi. Setelah itu? Tidak ada satupun murid yang mengajaknya berbicara. Bahkan ketika ia mencoba untuk mengajak Fawa mengobrol, Fawa hanya menanggapinya cuek. Sama seperti tanggapan teman-temannya yang lain, Fei, Fitra, Zabila, semua menanggapinya dengan acuh. Reina pun merasa kesepian, ia merasa, segala kesenangan dan kebahagiaan yang ia miliki selama ini seakan hilang satu-persatu.
Hari demi hari, Reina lalui dengan perasaan hampa, kesenangan dan keceriaannya yang dulu ia miliki sekarang telah hilang entah kemana. Ia sekarang menjadi lebih sering sendiri dan sering tertangkap basah Anaya berkali-kali tampak sedang melamun dengan mata menerawang. Ia juga menjadi sedikit pendiam, jarang sekali ia mengucapkan kata-kata, walaupun hanya sekedar basa-basi.
Anaya jelas merasakan perubahan sikap Reina ini. Ia sangat ingin menemaninya dan mengajaknya berbicara, namun ia terlalu takut. Takut jika Reina tidak menanggapinya, takut jika nantinya Reina justru akan membentaknya, takut jika itu justru mengganggunya, dan segala macam perasaan takut lainnya. Hingga pada suatu hari, ia mengumpulkan tekad dan keberanian untuk mengajak Reina mengobrol untuk sekedar menghibur dan menemaninya. Anaya merasa ia harus selalu ada bersama Reina dalam keadaan apapun, dan pada saat-saat inilah Reina sangat membutuhkannya.
Ia mencari Reina di seluruh penjuru sekolah, namun belum juga menemukannya. Saat bel istirahat makan siang tadi berbunyi, Reina langsung meninggalkan kelas dan belum juga kembali hingga sekarang. Akhirnya, Anaya memutuskan untuk menyerah, ia akan mengajaknya berbicara setelah jam istirahat selanjutnya saja. Lagipula jam istirahat makan siang akan segera berakhir.
Saat ia akan kembali ke kelas, tiba-tiba ia mendengar suara aneh, seperti suara isakan tangis dari suatu lorong sekolahnya yang sepi. Seketika ia merasakan bulu kuduknya merinding. Namun ia penasaran tentang siapa yang berada di dalam lorong sepi tersebut. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengeceknya. Ia melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju asal suara. Lalu sedikit mengintipnya, betapa terkejutnya ia ketika menemukan seorang gadis yang sangat dikenalnya, sedang menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya.
“Reina?” ujarnya lirih. Reina hanya mendongak menatap Anaya yang sudah berdiri di hadapannya dan kemudian menunduk. “Kamu kenapa?” tanya Anaya. Reina hanya terdiam. Tanpa dijawab pun, Anaya sudah mengetahui alasan mengapa ia menangis. “Rein, aku minta maaf, ya. Nggak bisa ada di dekat kamu di saat kamu sedang seperti ini,” lanjutnya.
Sejenak Reina terdiam, lalu berkata “Kenapa, Nay?” tanya Reina lirih yang langsung membuat Anaya bingung. “Kenapa hidup ini begitu kejam? Aku baru saja kehilangan kedua orang tuaku, kehilangan posisiku sebagai juara bertahan di peringkat satu, dan sekarang? Aku kehilangan teman-temanku, teman-teman yang selama ini selalu bersamaku, bahkan sekarang mereka mengacuhkanku. Apa salahku? Apa salahku sehingga Tuhan mengambil semua yang aku miliki selama ini? Apa salahku sehingga Tuhan menghukumku sampai seberat ini? Kebahagiaan, keceriaan, kesenangan, semuanya lenyap tanpa sisa. Aku merasa seperti tidak berguna sekarang, aku tidak punya lagi alasan untuk hidup,” Reina terdiam sejenak dan kembali melanjutkan, “Aku ingin mengakhiri hidupku, aku ingin mengakhiri semua penderitaan ini. Aku nggak kuat terus bertahan dalam kondisi yang seperti ini. Aku ingin berhenti hidup, Nay. Aku ingin-”
“Reina!” seru Anaya tegas memotong perkataan Reina. Saat ini, Anaya sudah menatap Reina tajam, “Apa yang kamu katakan? Apa maksudmu mengatakan kamu ingin mengakhiri hidupmu? Apa kamu tidak peduli dengan mereka yang masih setia menyayangimu, sehingga kamu ingin mengakhiri hidupmu?” ujar Anaya mengeluarkan pertanyaan retoris bertubi-tubi. Reina hanya terdiam. “Rein, sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Semua masalah dan cobaan yang kamu alami saat ini, pasti ada hikmahnya. Setelah kehilangan semua itu, kamu pasti akan mendapat sesuatu yang jauh lebih berharga untuk kamu, aku yakin,” lagi-lagi Reina hanya terdiam. “Kamu harus percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya. Jika Tuhan memberimu cobaan seperti ini, itu berarti kamu pasti bisa melewati ini semua, Rein. Kamu harus bangkit.”
“Bagaimana aku bisa bangkit, Nay? Aku sudah kehilangan semuanya, semuanya! Gak ada lagi alasan aku untuk bangkit. Untuk apa aku bangkit? Toh gak akan ada orang di sana yang akan menyambutku kalaupun aku berhasil. Aku sudah terlanjur terperosok masuk kedalam jurang yang dalam dan gelap, dan aku sudah tidak bisa keluar lagi. Dan jika aku berusaha pun, itu tidak akan membuahkan hasil! Itu akan seperti aku sedang mengukir pada air, sia-sia! Aku sudah kehilangan alasanku untuk bangkit. Semua dalam hidupku sudah rusak! Hilang! Lenyap! Tidak ada lagi harapan. Kalaupun aku nantinya berhasil, semuanya sudah terlanjur hilang, Nay. Kamu ataupun aku nggak akan bisa mengembalikan semuanya. Aku sendirian, kesepian!” ujar Reina dengan cepat.
Anaya terdiam. “Harapan itu selalu ada, Rein,” ujar Anaya yang telah kembali menemukan suaranya. “Jika kamu percaya kamu bisa meraihnya, harapan pasti akan selalu ada. Percaya. Kamu hanya perlu percaya dan berusaha semampumu untuk mendapatkan kembali apa yang sudah kamu miliki dulu. Kamu pasti bisa,” lanjutnya. “Dan ingat, kamu nggak sendirian. Ada aku, yang akan selalu ada untuk kamu. Aku pasti akan bantu kamu mendapatkan posisimu kembali dan mendapat banyak teman lagi. Dan kalaupun semua yang telah hilang itu tidak dapat kembali, kamu masih bisa mendapatkan penggantinya, yang pasti akan jauh lebih baik. Kamu harus sadar bahwa semua yang telah terjadi tidak akan dapat diulang, Rein. Jadi kamu harus memulainya lagi dari awal dan memperbaiki semuanya,” sambung Anaya meyakinkan Reina.
Reina menatap Anaya penuh haru, sahabatnya itu masih belum berubah. Ia masih tetap berada di pihaknya. Ia kemudian memeluk sahabat tercintanya itu dengan erat sambil menangis sepuas-puasnya di pundak Anaya, melepas segala beban dan kesedihan yang tersimpan di dada. Ia sangat beruntung memiliki sahabat seperti Anaya, sahabat yang sangat berjasa karena telah menyelamatkannya dari neraka yang bernama ‘kesepian’.
Samar-samar Reina mendengar Anaya berkata pelan “Aku sahabatmu.”
***
Keesokan paginya, Reina sudah kembali seperti sedia kala. Menjadi Reina yang ceria. Anaya sangat senang melihatnya. Setelah melepas segala bebannya, Reina berjanji bahwa ia akan kembali menjadi Reina yang dulu, ia akan fokus kembali belajar dan menekuni buku-bukunya. Ia merasa, ia harus segera keluar dari jurang yang telah membuatnya terpuruk selama berbulan-bulan itu. Harus.
“Gak kerasa ya, UAS akan datang sebentar lagi,” ujar Anaya memecah keheningan diantara mereka berdua. Anaya memang lebih sering bersama Reina akhir-akhir ini, untuk mencegah kejadian hari itu terulang kembali.
“Ya, aku udah nggak sabar menghadapi UAS semester ini” ujarnya sambil menutup buku bacaannya. “Aku pastikan kali ini aku akan benar-benar bangkit. Pasti!” lanjut Reina yakin. Anaya tersenyum menanggapinya, yang dibalas senyuman termanis oleh Reina.
Sudah lama kamu tidak tersenyum seperti ini, Rein. gumamnya dalam hati.
***
Hari yang dinanti-nantikan Reina pun tiba. Seluruh murid telah bersiap di bangkunya masing-masing, bersiap memerangi soal-soal UAS yang pastinya akan lebih sulit dari UAS semester lalu. Reina menekuni soalnya dan menjawabnya dengan hati-hati. Anaya memperhatikannya dan tersenyum lega.
Hari-hari UAS yang menegangkan telah berlalu. Hari ini adalah saat-saat yang paling menegangkan dari seluruh hari-hari menegangkan selama UAS, hari penerimaan raport. Seluruh murid telah deg-degan sedari tadi menunggu pengumuman hasil UASnya, karena hasil inilah yang akan menentukan naik-tidaknya mereka ke kelas 9. Reina dan Anaya telah duduk rapi di bangku mereka masing-masing. Sejenak sebelum pak guru wali kelas memulai pembagian hasil UASnya, Reina dan Anaya saling bertukar pandang dan menunjukkan ibu jari mereka masing-masing sambil tersenyum yakin.
Pengumuman pun dibacakan. Semua murid mendengarkan pengumumannya dengan hikmat. Hingga pada saat-saat pak guru membacakan peringkat 1 sampai dengan 10 dengan urutan terbalik. Sampai urutan peringkat 1 hingga 3, nama Reina belum juga disebutkan.
“Peringkat ketiga, didapatkan oleh Aryo Eka Wirawan”. Terdengar suara tepuk tangan dimana-mana. Aryo segera berdiri dan maju ke depan dan mengambil raport-nya.
“Peringkat kedua, didapatkan oleh siswi Shalu Aqeela Anaya,” Terdengar kembali suara tepukan tangan. Reina melirik ke arah Anaya sambil tersenyum bangga. Anaya membalasnya dengan senyuman penuh arti. Ia kemudian mengambil raport dari wali kelasnya.
“Dan kemudian, peringkat pertama di dapatkan oleh-” suara pak guru menggantung. Namun semua murid telah menduganya, siapa murid yang akan memperoleh peringkat pertama. Siapa lagi, jika bukan murid yang sedari tadi namanya belum juga dipanggil.
“Reina Syahrizka Alamsjah,” terdengar riuh tepuk tangan dimana-mana. Lebih riuh dari tepuk tangan sebelumnya. Reina kemudian maju kedepan dan mengambil raport-nya lalu tersenyum bangga kepada seluruh murid di kelas, terutama pada satu murid perempuan, Anaya.
Reina kembali mendapatkan ucapan selamat dari sana-sini atas prestasi yang diperolehnya. Reina sangat bahagia karena dapat meraih posisinya kembali. Setelah semua murid telah selesai mengucapkan selamat, dan kondisinya menjadi sepi. Anaya menghampiri Reina sambil tersenyum penuh arti. Selama beberapa saat, mereka hanya saling berpandangan dan melempar senyum bahagia bercampur rasa haru dan bangga, sampai Anaya mengatakan,
“Berhasil! Berhasil Reinaa!” teriak Anaya yang sedetik kemudian memeluk sahabatnya itu.
Reina tersenyum dalam pelukannya. Lalu berkata “Ya,” sambil menutup mata dan tidak menyadari telah mengeluarkan air mata haru di dalam pelukan Anaya.
“Eeh, tapi jangan lupa traktirannya,” ujar Anaya sambil melepas pelukannya, bermaksud menetralkan suasana, yang tentunya langsung menghilangkan moment haru yang langka didapatkan tersebut. Reina cemberut.
“Masih inget aja,” jawabnya dengan nada ngambek. Yang langsung disambut tawa oleh Anaya.
Sejak kejadian itu, sejak hari-hari gelap selama hidupnya terlewati, Reina menjadi semakin mengerti banyak arti. Arti kehidupan yang tidak selalu berjalan mulus, arti sebuah sahabat, perjuangan, pengorbanan, masa lalu, kebahagiaan, kesedihan, cobaan, dan hikmah, serta mengerti betapa pentingnya arti kehidupan ini, yang merupakan anugrah terbesar dari Tuhan.
Betapa bodohnya orang-orang yang lebih memilih mati sia-sia dengan membunuh dirinya sendiri hanya untuk melarikan diri dari masalah-masalah yang melilitnya. Childish!
Created By : Unknown | Note Hand Excel
Terimah Kasih telah membaca Tulisan Aku Sahabatmu. Yang ditulis oleh Unknown Pada hari Saturday, 4 March 2017. Jika anda ingin menyebarluaskan Tulisan ini, mohon sertakan sumber link asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Trimakasih

Blog, Updated at: 11:01 pm

0 komentar:

Post a Comment

Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:

1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar

Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.

Salam Blogger


SEO Reports for handexcel.blogspot.com
DMCA.com Protection Status