Berbuat baik terkendala dalil?

Written By Unknown on Wednesday, 1 July 2015 | 11:38 am 0

Sedikit cerita tentang perbincangan saya dengan teman saya dikantor. Suatu hari, saya datang agak terlambat ke tempat kerja. Kerabat saya meninggal. Sesampainya dikantor, saya menjelaskan alasan keterlambatan saya. Beruntung, atasan saya sangat pengertian. Beliau tidak mempermasalahkan hal tersebut. Lain halnya dengan atasan saya, rekan kerja saya sendiri agaknya menaruh perhatian lebih pada kejadian tersebut. Dia tiba-tiba menyambung obrolan.
" Tempat kamu ada yg solat2 buat jenazahnya gitu nggak sih?" Tanya nya.
Di lingkungan tempat saya tinggal, memang termasuk daerah yg kalo ada kerabat meninggal, tradisinya adalah, beberapa hari kedepan, keluarga dan kerabat bahkan warga sekitar akan turut serta dlm bersholat lagi untuk jenazah si Fulan, apalagi jika meninggalnya si Fulan ini karena menderita sakit yg sampai meninggalkan solat sangat lama. dengan harapan bahwa berkah sholat berjamaah ini bisa sampai padanya, pun ada yang berdoa bersama untuk jenazah si Fulan dgn harapan yang serupa. Saya menjelaskan hal tersebut padanya. Unik nya, teman saya ini masih melanjutkan ketertarikannya. Kata-kata yang agak aneh yang saya dengar,
" bisa nyampek ya? Lagian emang ada hadist nya? Setauku blm ada hadist atau dalil yg nyuruh kita kyk gitu. "
Saat itu saya berfikir, "Ah apa benar tradisi yang selama ini ada itu tidak sesuai hadist atau dalil di Alqur'an". Sekedar informasi saja, teman saya ini sangat pintar, ilmu agama nya sangat mumpuni, bahkan saya bisa dibilang belajar banyak hal dari dia. Sepersekian detik saya agak ragu dengan yg baru saja saya ucapkan. Namun kemudian kalimat2 ini muncul begitu saja dari mulut atasan saya;
" Solat dan mendoakan orang lain itu baik, mau orangnya masih hidup atau sudah mati, nggak ada yang dirugikan ketika kita melakukannya. Apakah berkah sholat dan doa itu sampai pd si Fulan atau tidak, Itu sudah bukan urusan kita. Biar Alloh saja yang mutusin. Kalo mau berbuat baik saja masih harus nyari dalil sama hadist nya, kapan kita mulai berbuat baiknya. Lawong perintah2 agama yg dalil dan hadistnya jelas saja, juga belum pasti dilakukan. Iyaa toh? " Dengan nada yg sangat tidak menggurui.
Saya senang dengan pendapat atasan saya yang mendukung hal yg saya lakukan. Tetapi rasanya temen saya belum begitu puas sampai muncul lagi kalimatnya,
"kan kalo dahulu dijaman nabi nggak diajarkan, dan kita menciptakan tradisi itu sendiri, nggak boleh ya hukum nya?"
"Bid'ah maksud kamu? Wah, dibahas lain kali saja, kita belajar bareng dulu, sepertinya kamu melewatkan sub bab Bid'ah dan macam2nya" sambung atasan saya. Saya mah lebih milih diem, ilmu saya masih cetek, prinsip saya cuma satu, ya kayak kata atasan saya tadi, yang penting nggak bikin rugi orang lain, lakuin. Masak iyaa mau berbuat baik aja terkendala dalil. Hmm, sekali lagi, saya belajar dari teman saya yang satu ini.


Catatan : Yessiana El Mufidha
Created By : Unknown | Note Hand Excel
Terimah Kasih telah membaca Tulisan Berbuat baik terkendala dalil?. Yang ditulis oleh Unknown Pada hari Wednesday, 1 July 2015. Jika anda ingin menyebarluaskan Tulisan ini, mohon sertakan sumber link asli. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar. Trimakasih

Blog, Updated at: 11:38 am

0 komentar:

Post a Comment

Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:

1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar

Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.

Salam Blogger


SEO Reports for handexcel.blogspot.com
DMCA.com Protection Status