“Tidak.! Tidak saat ini dan tidak kapan pun. Kalau itu terjadi kau akan mendapatiku mati, sebelum aku menjadi yang kau inginkan.”
Wanita paruhbaya di depanku terdiam, sekuat mungkin ia mengumpulkan keberanian menatapku. Lalu dengan sangat lembut dan hati-hati ia bergumam, “Mama hanya ingin jadi ibu yang sempurna buat kamu, ibu yang membingkiskan firdaus seperti yang sembilan belas tahun terakhir ini kamu dengar sebagai namamu.”
Aku tahu akan ada kristal yang terlahir dari kerdua kelopak matanya, dan untuk yang kesekiankalinya kristal ini berasal dari aku. Kalau sudah begitu aku akan berlalu, lantas mengapai firdaus menurut versiku. Tentu saja tanpa harus mengikuti ritual yang menurutku tidak masuk akal. Omong kosong apa yang diajarkan mama? Siapa bilang firdaus ada di kakinya? Itu hanya istilah, firdaus ada di mana saja yang aku suka, karena akulah firdaus itu.
Matahari mulai mengintip di antara celah bonsai, menerobos lalu menyapa barisan rumput yang menggigil kedinginan. Rinai semalam menciptakan genangan di antara seroja. Kumbang menari di atas putik, beradu kejantanan lalu tumbang dan seolah bersujud di kaki kembang.
Meow, dengan gesit si kucing menagkap kumbang yang terjatuh dalam kubangan. Diam-diam aku tersenyum, senyum tertulus yang hampir tidak pernah kudapati dalam sembilan belas tahun terakhirku. Tiba-tiba aku teringat seseorang, sosok yang sama sekali tidak ingin aku ingat.
“Fir, dari mamamu.”
Itu pasti tante Khumaira, tanpa berpaling aku bergumam, “Aku nggak lapar, buat tante aja.” Kali ini kubiarkan perutku melilit, kasihan sekali lambungku, ia pasti terpojok oleh asam lambung yang menambah perih perutku. Tapi aku tidak mungkin menerimanya, aku tidak ingin dikasihani. Meski tak bisa kuelak cibiran seantero jagat.
“Fir, tante tau kamu tidak suka tempat ini, kamu ingin cepat pulang kan?” Aku tersenyum sinis. Tante salah tidak suka bukan berarti ingin pulang kan?
“Tante fikir paradikmamu sudah lebih dari cukup untuk sekedar menerka maksud di balik teka-teki ini. Tante tahu kamu paham, ini untuk kebaikan.” Ada helai di ujung kalimatnya.
Hem, kebaikan? Kebaikan apa? Kebaikan yang mana? Aku justru makin tersiksa di sini! Jangankan paradikma, berimajinasi saja aku tidak selara. Apalagi di ruang sempit yang tawar dan menjijikan. Ini sama halnya seperti membunuhku secara perlahan, namun aku yakin sebelum tempat ini membunuhku, mungkin aku sudah mati.
“Mamamu bilang, dia sangat merindukanmu, sebenarnya ia tidak tega menempatkanmu di sini.” Ada nada takut pada ujung kalimatnya.
“Berhenti menyebut namanya, atau aku akan pergi secara paksa dari tempat ini! Tante pikir aku tidak mampu melakukannya?” Sesegara mungkin aku menjauh, sebelum kudapati genangan itu benar-benar meleleh. Aku sama sekali tidak ingin melihatnya menagis. Satu hal yang tak kumengerti, kenapa mama berani menempatkan aku di sini, apa ia lupa segumpal kebencian yang justru akan semakin beranak pinak dengan keputusan tololnya ini? Sama sekali bukan lelucon yang patut ditertawakan.
Ragu kusentuh handle pintu. Sial, aku sama sekali tidak pernah bermimpi akan menapakkan kaki pada ruang sempit ini. Apa mungkin aku harus mati sekonyol itu? Terpenjara dalam gelap dan debu yang kian menambah sesak dadaku, tanpa mengukurnya aku tau, ruang laknat ini tidak lebih lebar dari kamar mandi rumahku. Sampai purnama terbelah dua pun aku takkan pernah rela menjadi santapan malam nyamuk-nyamuk sialan yang hendak mencicipi kehalusan kulitku. Apalagi darah segar yang kental mengalirkan kebencianku. Betapa terkutuknya tempat ini? Mana mobil mawahku? Mana kesenangan juga dunia gemerlap yang selama ini aku nikmati? Mana firdaus itu?
“Sial, sial, sial.!” Aku berteriak kesal, kuacak-acak rambut kusamku dengan sedikit simpati, betapa mengerikannya ini? Kilau rambutku turut meredup, malang sekali nasipnya, aku ingat tiga hari ini aku tidak krimbat.
“Mbak Firda, kamar 209, kita sudah di tunggu.” Suster Fitri tampak menanti jawaban. Aku terdiam sejenak, tugas pertamaku. Aku ragu, bagamana kalau aku tidak berhasil?
“Mari Mbak,” masih dengan hati-hati suster Fitri memamerkan deretan gigi putihnya. Entah mengapa tiba-tiba aku mengangguk dan dengan begitu saja mengekor di belakangnya.
Kamar 209. Jantungku berpacu seribu kali lebih kencang dari biasanya, tubuhku mulai bergetar.
“Tolong selamatkan anak dan istri saya, Dok!” Ada nada penuh harap pada lelaki paruh baya di depanku.
Dokter? Aku mengernyitkan dahi, lalu mengamati sejenak pakaian yang tengah kukenakan.
“Doktel, selametin mama dan adek bayi ya.” Sepasang mata polos menjamah ruang keangkuhanku, kudapati keteduhan disana, entah kenapa tanpa dikomando aku berlutut menjajari tingginya. Kusapu lembut kedua pipi bakpau itu, sekali lagi aku heran, entah dari mana sikap lembut yang singgah begitu saja dalam detikku kali ini, aku tahu jelas, tidak pernah tergerak nurani semanis ini sebelumnya.
“Doktel,” aku mengangguk sampai suster Fitri kembali membimbingku. Tanpa berfikir panjang aku menghampiri dokter Khumaira yang member isyarat ke arahku. Tontonan aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Apa yang harus aku lakukan di sini? Apa benar kehadiranku bisa membantu? Sementara aku sendiri tak mengerti apa yang harus kuperbuat? Seorang ibu muda dengan perut membuncitnya, terkulai lemas seakan tak bernafas. Pasrah dengan nasib yang akan membawa ia dan anaknya ke arah yang ia sendiri tak tahu kemana.
“Suster!” Dokter Khumaira megomando, sementara suster kapercayaannya itu mengangguk yakin. Setelah mengecek semua peralatan medisnya, ia segera mengambil ancang-ancang untuk berjuang, dengan wajah bak pahlawan ia membuang jauh-jauh rasa takut dan ragu, dan dengan penuh perhitungan ia mengambil ancang-ancang lalu merobek perut buncit itu. Tak kalah jeli ia berhasil mengeluarkan sosok mungil dari rahim ibunya. Kerudung kecilnya berkibar, menyerukan kemenagan laksana sang saka merah putih yang gagah menjadi pertanda kemerdekaan. Bendera pertama yang memupuskan harapan jepang untuk menang. Lalu senyumnya menampakkan kewibawaan, serupa dengan bung karno dan pidato beraroma mistisnya.
“Ooeekk,” tangis pertama yang mengoyah pagi itu akhirnya terdengar. Aku tercekat, berusaha meyakinkan diri kalau aku tidak sedang bermimpi. Aku baru merasa benar-benar bangun ketika dokter Khumaira yang tidak lain dan tidak bukan adalah tanteku, mulai mengomandoku. Aku tahu seonggok beban menjejal di ruang sadarku, aku harus siap mengikuti komandonya. Kali ini aku bermain dengan nyawa, bukan lagi gemerlap yang kerap merabunkan pandang. Dalam hitungan jam aku sudah melakukan banyak kesalahan, lantas apakah pantas aku mengais kewibawaan yang membuat tanteku menjajari gelar pahlawan? Kini aku tahu kalau aku hanya seorang pecundang. Tapi batinku masih terlalu angkuh untuk sekedar mengiyakan pendeskripsianku.
Tak luput senyum itu pun menyambut, bocah berpipi bakpau membingkis senyumnya untukku, dalam paradikma polosnya mungkin ia berpikir bahwa akulah ranger yang menjadi penyelamat dunia, atau bahkan superman yang terbang dan membawakan adik bayinya ke dunia. Tidak! Apa pantas aku disebut pahlawan?
Hari-hari berikutnya aku merasa ada yang aneh pada diriku, rasa rindu kerap hadir tanpa kuminta. Aku membencinya, aku benci keadan ini. Aku tidak sedang merindukannya, aku hanya sedang galau.
“Sirosis bisa kapan saja menutup usiaku. Penyakit itu dengan begitu mudah bisa membuatku mati. Bahkan setelah detik ini.”
Aku terperanggah, betapa rapuhnya ia? Dalam senyum ia menanti Izrail menjemput.
“Aku tidak berharap bisa hidup lebih lama. Aku hanya ingin menciptakan arti dalam sisa waktu sempitku. Aku berharap jika aku pergi nanti semua orang akan tersenyum mengenagku. Aku tidak ingin terlepas dengan air mata, karena aku datang dengan harapan dan hanya akan pergi setelah aku benar-benar meninggalkan arti.”
Kutarik nafas panjang, berusaha sekuat mungkin agar barisan bulu lentikku mampu membendung genangan di mataku. Kutatap sejenak setangkai seruni di tanganku. Sisa-sisa embun masih tampak membasahi kelopaknya. Mungki Fais baru saja memetiknya tadi pagi, beberapa saat sebelum ia kembali terbaring dan menciptakan senyum termanis yang mengiringi kepergiannya. Ia memang selalu begitu, menukar seluruh energinya agar ia tetap bisa tersenyum, dan tak satu pun yang tahu gejolak raga yang berusaha diredamnya.
“Kenapa tidak mau di operasi, Iz?” Tanyaku saat itu.
“Dengan kata lain, aku harus mengorbankan mamaku? Tidak Fir, aku tidak pantas untuk itu. Rasa sakit yang kuredam tak sebanding dengan rasa sakit mama. Kalau waktu bisa terulang, aku tidak ingin dilahirkan. Karena dengan begitu mama tidak akan kesakitan melahirkan aku.” Lagi-lagi Fa’iz tersenyum. Betapa tegarnya anak itu? Seharusnya aku menemukannya sejak dulu. Seharusnya aku tahu, bahwa aku begitu rapuh. Aku terlalu kerdil di depannya.
Dear: the sunsine
Senyum adalah pesan kebahagiyaan yang paling cempat sampai kehati.
Kamu tidak perlu menunggu bahagia untuk tersenyum.
Tapi tersenyumlah, untuk menjemput kebahagiyaan.
Fa’iz
Genagan itu mengristal, mengalir pada pori-pori terkecil di pipiku, kemudian memosisikan diri diantara barisan embun yang membasahi seruni. Kali ini aku benar-benar menagis, tangis pertama dalam lima tahun terakhirku. Fa’iz benar-benar membuatku terpuruk. Bahkan setelah pergi pun petuahnya terus mengejarku. Ia berhasil mencairkan bukit keangkuhan yang tengah lama bertahta.
Kudekap erat secarik pesan dari Fa’iz, katika secara tiba-tiba suster Fitri mendekat. Ia tersenyum dan mengangguk, lalu menuntunku pada jalan yang terancang khusus untuk merobohkan kesombonganku. Aku laksana pasukan bebek yang mengekor pada buntut tuannya. Bahkan sampai detik ini aku sama sekali tidak mengerti apa tujuan mereka mengkarantinakan aku di sini. Yang kutahu mereka mengatasnamakan ini sebagai kebaikanku. Tapi aku justru tidak menemukan kebaiakan apa yang mereka maksud. Seperti biasa suster Fitri mempersilakan aku masuk. Dan entah untuk yang keberapa kalinya tontonan serupa tersaji untukku. Gila! Aku sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi dokter. Ini bukan tempatku.
“Fir..,” Dokter Khumaira memanggil, aku mulai hafal maksudnya. Ia fikir dengan tontonan itu aku akan takut? Tidak.! Seorang Firdaus tidak takut dengan apapun.
“Tarik nafsa…., ya bagus, tarik lagi terus… terus…” seperti yang sudah-sudah aku hanya mematung dalam diam. Aku tak ubahnya seperti manekin yang terpajang di mal-mal tempat aku menghamburkan uang, dan mengesek tiap kartu yang terkoleksi di dompetku. Aku mulai bosan sampai rasa iba berhasil menjamah ruang kesombonganku. Wanita setengah tua itu menjerit, berusaha mengumpulkan segenap kekuatan. Ia berjuang demi terlahirnya nyawa baru dari rahimnya.
“Ya tarik nafas lagi, sedik lagi, bu…., ya…, ya bagus, terus, tarik nafas.. sedikit lagi.. ” Dengan nafas yang tertahan ia berusaha menghirup udara yang sedalam-dalamnya, jeritnya menggema, memenuhi sudut-sudut ruang lalu menamparku secara perlahan.
“Tau apa Mama tentang Firda? Tugas Mama tu di dapur menyiapin sarapan untuk aku.”
“Samai kapan Mama terus ceramah di depanku? mau Firda pulang subuh kek, malem atau bahkan tidak pulang sekalipun itu itu urusan aku. Kayak yang ndak pernah mudah aja.
” Tapi kamu perempuan, Fir. Tidak ba..” kubiarkan kalimatnya mengantung.
“Terus kanapa kalau aku perempuan? Nyesel punya anak kayak aku? Lama-lama aku bisa mati dalam rumah ini.” Ku banting pintu sekeras mungkin, kebebasan tengah menantiku, aku tau, saat ini dadanya terguncang oleh ulahku.
“Apa hak anda melarang saya? Tuhan saja tidak pernah protes, mau rambut saya ijo kek, kuning, ungu, merah, atau apapun, itu terserah saya. Paham.?”
“Firda, ini sekolahan bukan hutan. Ganti warna rambut kamu atau…”
“Apa? Atau apa? Apa yang akan anda lakukan pada saya? Parlu anda tahu, harga cat rambut saya jauh lebih mahal dari gaji anda sebulan. Mengerti?”
“Firdaus, kamu….?” Tanganya terangkat wajahnya mengeras oleh amarah.
“Apa? Mau nampar? Tampar saja, tanpa SPP dari kami anda tidak akan bisa makan. Dan mungkin nasib anda tidak jauh beda dari para gembel yang ada di kolong jembatan.”
plaa….kk Amarah itu benar-benar mendarat di pipiku.
Rasa panas mulai menjalar. Api mulai berkobar mengepung kelopok mataku, seiring dengan kesombongan-kesombongan yang kembali tergelar dimataku. Tuhan seolah mempertontonkan kembali masa laluku tepat di antara detik-detik kefitrahan terlahir.
Aku menagkap tubuhnya melemas, seluru tenaganya hamper terkuras. Perjuangannya belum berakhir. Kefitrahan itu belum terlahir. Dengan sisa tenaganya ia kembali mengerang, menahan setiap rasa sakit yang yang hanpir tak tertahan. Ia begitu menderita, tapi ia tahu ada kebahagiyaan setelah itu. Masalahnya sempatkah ia mencicipinya?
“kalau waktu itu bisa terulang, aku tidak ingin dilahirkan, karena dengan begitu Mama tidak akan kesakitan melahirkan aku.”
“Manusia hanya tercipta dari tanah, partikel yang berada pada posisi paling rendah diantara kita. Sadar nggak, bahkan kita kerap kali menginjak-nginjaknya. Jadi apa pantas kita berlaku sombong? Toh pada akhirnya kita akan kembali berbaur dengan tanah, partikel yang semula kita anggap rendah dan tidak berguna.” Fa’iz seperti kembali hadir di depanku. Memberi senyum termanisnya, mengangguk lantas seolah berkata
“Lihat deritanya,seperti itulah ibumu waktu itu.” Seketika dadaku terguncang, tepat bersamaan dengan tangis kecil dari sosok mungil, ia menjerit-jerit. Untuk apa ia menangis? Bukankah seharusnya ia tersenyum? Dunia baru tengah menyambutnya, ia baru saja terlepas dari ruang sempit yang memenjarakanya di harim ibunya. Atau mungkin saja ia menagis karena terlahir dalam dunia yang penuh dengan topeng berlogokan kebaikan. Atau ia justru menagis karena….
“Dokter Khumaira.” Suster Fitri panik, wajahnya pucat ada kecemasan disana. Semantara tante Khumaira menunduk, kali ini ia gagal. Sekarang aku tau kenapa ia menagis, karena mulai detik ini tidak akan ada belai lembut yang mengiringi tidurnya. Tuhan, ini tidak adil, ia belum sempat menikmati jerih payahnya. Bahkan sekedar melihat seperti apa hasil perjuangannya. Kerja keras yang harus ia bayar dengan nyawa.
“oooeekk, ooweekk” aku merasah begitu kerdil didepannya,kerdil, kerdil dan sangat kerdil.
brukk.. Aku ambruk bersama kebodohan yang aku lakukan.”
“Pokoknya Firda pengen pulang Firda pengen ketemu Mama, tante” Dadaku terguncang masih ada waktu untuk berubah. Aku belum terlambat. Batinku meyakinkan.
“Belum bisa sekarang Fir, masa pengkarantinaanmu belum selesai. Tunggulah beberapa hari lagi. Tante janji kamu akan pulang.”
“Firda ingin bertemu Mama tante,” Kudekap erat orang yang semula paling kubenci setelah Mama. Ia mengusap lembut rambutku, menenangkan aku dalam dekapannya.
Sekarang aku tahu kenapa aku harus ada di sini, sekarang aku tahu aku hanyalah si rapuh yang bersembunyi dibalik kesombongannya.
Kusambar kunci mobil tante. Aku ingin segera pergi dan sampai dirumah. Aku harus bertemu Mama, aku akan menciumi kedua kakinya. Aku mulai tidak sabar, ingin rasanya segera terlarut dalam dekapannya, merasakan jari-jari keriputnya membelaiku. Mama, betapa bodohnya aku yang telah mentiadakan keberadaanmu. Kuhirup nafas panjang, kubiarkan airmataku melebur khilaf. Aku harus segera bertemu Mama, aku janji kali ini aku tidak akan melepaskan dekapannya. Aku akan mengatakannya aku akan membingkis kata itu untuknya.
Pelan kusentuh handle pintu, jantungku berdetak ada rasa ragu disana. Bagaimana jika Mama tidak menerimaku? Aku tidak boleh berfikir seperti itu, Mama tidak mungkin membenciku. Aku mencoba tersenyum, melerai degup yang terus berdentum.
“Ma..,” Aku tidak bisa mengukur seberapa parau suaraku? Kudekati Mama yang duduk ditepi ranjang, ia membelakangiku. Ia mendekap sesuatu.
“Ma…, Mama, ini Firda, Ma. Firda sudah pulang untuk Mama. Aku kangen sama Mama.” Mataku berkaca genangan itu terjatuh, tepat ketika Mama tidak juga berbalik pada sumber suaraku.
“Ma, maafin Firda, Ma. Lihat Firda, peluk Firda, Firda ingin berbaur pada pelukan Mama, Ma…,” Tangisku makin menjadi, Mama belum juga melirikku, apalagi menyentuh. Aku tahu ada firdaus dibawah kaki Mama, apakah itu berarti pintu itu sudah tertutup untuk aku? Aku tidak peduli, pintu firdaus tidak mengiurkanku saat ini. Aku hanya ingin maaf dari Mama, aku ingin melihat senyum termanisnya untukku.
“Ma…,” Suaraku hampir tidak terdengar.
“Maafin Firda ma, Firda tahu Firda salah, Firda tidak pantas mendapat maaf dari Mama, Firda rela jika setelah ini Firda harus pergi. Ma.. “
“maa….” Aku tergugu sampai pintu terkuak dan bayangan papa memenuhi ruangan. Ia mendekat pada Mama mengusap halus jilbab sutranya lalu dengan sangat hati-hati ia berkata
“Pemakamannya sudah siap, ma. Jenazahnya akan segera diberangkatkan”. Kutemukan nada getir disitu.
“Firda, pa Firda”. Aku tersenyum, akhirnya Mama menyebut namaku. Apakah itu berarti Mama sudah memaafkan aku? Papa mendekap mama, matanya ikut berkaca. Aku tahu, Mama hanya menghukumku. Ia pasti akan segera memelukku.
“Relakan Firda disampingnya, ma”.
“Mama belum sempat melihat dia berubah, Pa. Tuhan telah mengambilnya dari kita.” Aku mengernyitkan dahi, sepertinya ada yang aneh. Firda itukan namaku? Lalu pemakaman? Jenazah? Disisi Tuhan? Apa maksudnya? Dengan ribuan tanya aku mengikuti langkah mama. Ia berhamburan pada ruang tamu dan, aku melihat diriku dalam balutan kain putih. Mereka memasukkanku dalam keranda, kulirik wanita baya disampingku. Ia tetap mendekapnya, lebih erat malah.
“Yang sabar ya, Mbak”. Tante Khumaira mengambil benda itu.
Gambar cantik dalam bingkai ukiran jepara. Itu aku, itu fotoku. Aku berusaha mengumpulkan rangkaian memoriku. Kunci mobil, teriakan tante, anak kecil, sebuah truk, pohon, dan tidak....!!! Itu berarti aku....?
Catatan Cukup Oi Aja




nama saya firdaus :v /
ReplyDelete