Di dalam sebuah rumah yang sepi, pada suatu pagi seorang pemuda duduk dan kadang-kadang menatap keluar ke langit yang dihiasi bintang-bintang dan kadang-kadang terdapat gambar seorang gadis di depannya. Garis-garis dan warna-warna terpantul di wajahnya, menguak misteri malam dan rahasia keabadian. Gambar wajah gadis itu bicara rahasia kepadanya, membuat mata jadi telinga yang memahami bahasa jiwa yang mengalir di udara ruangan itu, merubah semua kemanusiaannya menjadi hati yang memancarkan cinta dan membanjiri kerinduan.
Satu
jam berlalu, seolah-olah itu sebuah peristiwa dalam mimpi indah atau
sebuah tahun dalam keabadian. Akhirnya sang pemuda meletakkan gambar
itu di hadapannya, mengambil pena dan kertas, lalu menulis “Kekasih
jiwaku! Kebenaran agung yang ada di atas alam tidak melalui manusia
kepada lainnya lewat ucapan manusi. Namun, mereka memilih kesunyian
sebagai jalan antara jiwa-jiwa. Aku tahu benar bahwa kesunyian malam
mempercepat jiwa-jiwa kita, membawa pesan lebih halus dari kata-kata
yang ditulis oleh udara musim semi yang sepoi-sepoi di atas permukaan
air. Ia menceritakan buku dua hati kita kepada dua hati kita. Namun
seperti juga takdir memenjarakan jiwa dalam tubuh, ini adalah takdir
cinta untuk membuatku bertahan dalam kata-kata. Mereka berkata,
kekasih, bahwa cinta dipindahkan dalam pelayan-pelayan untuk api yang
melalapnya. Aku sudah menemukan bahwa waktu perpisahan tak mampu lagi
membagi kedirian dua jiwa kita, seperti yang ku tahu pada pertemuan
pertama kita, bahwa jiwaku telah mengetahui jiwamu sepanjang jaman
seperti yang aku tahu bahwa pandangan pertamaku untukmu bukanlah
dalam pandangan pertama yang sebenarnya. Kekasih! Waktu itu mengikat
hati kita menjadi satu, membuangnya dari dunia yang lebih tinggi.
Waktu itu adalah satu dari beberapa waktu yang mengokohkan
kepercayaanku sebelum keberadaan dan keabadian jiwa. Di dalam
waktu-waktu bahwa alam tak menudungi wajah keadilan yang tak
terbatas, meskipun demikian mereka mengira akan menjadi tirani.
“Kekasihku,
ingatkah engkau dalam taman ini, kita saling memandang wajah,
kekasih? Tahukah engkau bahwa tatapanmu mengungkapkan padakukalau
cintamu untukku itu tidak timbul dari rasa kasihan? Tatapan-tatapan
itu mengungkapkan bahwa aku dapat menceritakan diriku dan seluruh
dunia, bahwa pemberian yang sumbernya dari keadilan lebih besar dari
pada pemberian yang sumbernya dari kemurahan hati, bahwa cinta yang
dicipta dari suasana-suasana adalah seperti air yang diam.
“Di
hadapanku, kekasihku, adalah kehidupan yang ku inginkan jadi besar
dan indah, kehidupan yang akan menemukan tempatnya dalam ingatan
manusia untuk dimunculkan, yang akan menyelaraskan kehormatan dan
kasih sayang mereka, kehidupan yang dimulai pada saat aku berjumpa
denganmu. Aku percaya bahwa hal itu abadi, karna aku percaya bahwa
engkau mampu mewujudkan kekuatan yang telah di percayakan Tuhan
padaku. Itu adalah kekuatan yang akan ku wujudkan dalam kata-kata dan
perbuatan-perbuatan besar, seperti matahari yang menjadi bunga-bunga
liar yang wangi tumbuh di atas padang rumput. Jadi akankah cintaku
melanjutkanku dan generasi sesudahku, kemurnian eo yang mungkin
mengembangkannnya dan dimuliakan diatas kerendahan yang akan
membatasimu?”
pemuda
itu berdiri dan berjalan pelan-pelan mengelilingi kamar. Dia menengok
keluar jendela melihat sang bulan muncul di atas cakrawala dan
mengisi langit dengan cahaya yang lembut. Dia berbalik dan menulis
surat:
“Maafkan
aku kekasih, karna aku telah menyebut engkau sebagai 'engkau', namun
engakau adalah setengah bagian yang manis dariku yang ku hilangkan
ketika kita meninggalkan tangan Tuhan pada kesempurnaan yang sama.
Maafkan aku kekasihku.”




0 komentar:
Post a Comment
Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:
1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar
Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.
Salam Blogger