Ketika jiwaku meletihkan orang-orang dan mataku melelahkan tatapan wajah siang hari, aku pergi ketanah yang jauh dimana hantu-hantu masa lalu tetap ada.
Disana
aku berdiri menatap bersama mata kegelapan, mendengar kepak sayap
yang tak terlihat, merasakan sentuhan jubah kesunyian, keberanian di
antara gangguan malam.
Di
sana aku melihatmu, malam susunan keindahan yang menakutkan, beranjak
diantara bumi dan langit, di selubungi awan-awan, diselimuti kabut,
menertawai matahari dan menghina makhluk yang duduk bersandar didepan
patung dewa-dewa mereka, marah kepada raja yang tertidur dibawah
sutra dan kain emas, menatap wajah-wajah pencuri, melihat dekat
buaian bayi, menangis senyum kelicikan, tersenyum pada airmata
kekasih, mengangkat dengan tangan kananmu dengan hati yang agung,
menghancurkan jiwa-jiwa kecil dibawah kakimu.
Di
sana aku melihatmu, malam, dan engkau melihatku. Engkau adalah ayah
buatku. Meskipun aku takut padamu, dalam mimpiku aku adalah anakmu.
Kerudung kegelapan di pindahkan di antara kita dan kerudung keraguan
serta dugaan disobek dari muka kita. Engkau memberiku rahasia
keinginanmu, dan aku memberitahumu dengan terus terang harapan dan
keinginan. Akhirnya gangguanmu di ubah menjadi sebuah lagu yang lebih
manis dari pada bisikan bunga-bunga. Ketakutan menjadi persahabatan
yang lebih indah dari bahaya yang lebih menikam. Engkau membawaku
kepadamu dan mendudukkanku diatas pundakmu. Engkau mengajari mataku
untuk melihat dan telingaku untuk mendengar serta bibirku untuk
bicara. Engkau mengajari hatiku untuk mencintai sesuatu yang dibenci
manusia dan membenci sesuatu yang tidak dibenci manusia. Lalu kau
sentuh pikiranku dengan ujung-ujung jarimu, dan pikiranku tercurah
seperti aliran sungai dan menyanyikan seperti membasuh rumput-rumput
yang putih. Lalu kau cium aku dengan bibirmu, dan jiwaku menari
seperti percikan bunga api yang menjadikan api dewa-dewa kayu yang
kering.
Aku
adalah temanmu, malam, sampai aku seperti engkau, aku temanmu sampai
keinginanku bercampur denganmu. Aku mencintaimu sampai wujudku
berubah menjadi bagian terkecil dari wujudmu. Dalam jiwa gelapku
bersinar bintang-bintang, di taburkan dimalam hari oleh suka cita,
namun kecemsan pagi menyapu mereka pergi. Kadang-kadang dalam
matahariku bulan terburu-buru menyeberangi angkasa, angkasa
kadang-kadang dikaburkan awan-awan dan kadang-kadang dipenuhi kereta
mimpi. Didalam jiwaku yang terjaga bentuk kesunyian menceritakan
pikiran kekasihku dan gua-guanya menggemakan doa-doa kepalaku. Ada
kerudung magis yang membalut kepalaku. Suara kematian dari seorang
yang sekarat membanjirinya kemudian lagu dari penyair cinta
memperbaiki lagi.
Malam,
aku seperti engkau. Akankah manusia berpikir aku sombong saat
memperbandingkan diriku denganmu? Dalam kesombongan mereka, mereka
memperbandingkan diri mereka dengan api.
Aku
seperti engkau, karna kita berdua dituduh menjadi wujud yang bukan
wujud kita. Aku seperti engkau, dalam keinginanku dan mimpi-mimpiku
dan wujudku serta sifatku. Aku seperti engkau, walau malam tidak
memahkotaiku dengan awan emas. Aku seperti engkau, meskipun pagi
tidak memulas jubahku dengan cahaya kemerahan.
Aku
adalah malam, sahabat, ketenangan, kesenangan, kesulitan. Gelapku
sudah tidak berawal dan kedalamanku tidak berakhir. Ketika jiwa-jiwa
muncul, mempesona dalam cahaya kesenangan mereka, jiwaku kedinginan
didalam bayangan kesakitannya.
Malam
aku seperti engkau. Pagiku tidak akan datang sampai waktuku usai




0 komentar:
Post a Comment
Diharapkan menyampaikan komentar dengan sopan dan memenuhi beberapa aturan berikut:
1. Tidak mengandung SARA
2. Tidak mengandung pornografi
3. Tidak melakukan SPAM
4. Jangan meninggalkan Link Aktif
5. Etika yang baik dalam berkomentar
Kalau melanggar maka dengan terpaksa akan kami hapus komentarnya, trimakasih.
Salam Blogger